MOST RECENT

SPONSOR ADS
W3 Directory - the World Wide Web Directory Personal Blogs

Heboh Foto Hantu di Konser Geisha




Ada yang istimewa kala Geisha tampil menjadi band pembuka konser Agnes Monica yang digelar di JATIM EXPO, Surabaya, Sabtu malam (23/7). Pasalnya, ada satu 'tamu istimewa' di konser bertajuk Smartfren, Live Smart Agnes Monica Live in Concert ini!

Dalam foto jepretan reporter KapanLagi.com™, ketika band ini tampil menggebrak panggung, kepulan asap yang mengarah ke backdrop screen terlihat membentuk satu bentuk yang 'istimewa', sebuah hantu terbang! Dalam bentukan ini, bisa terlihat jelas dua tangan dengan cakar yang tampak cukup mengerikan.



Tak pelak, isu konser yang 'dihadiri' hantu pun muncul kembali. Sebelumnya, dalam konser d Masiv di Papua tahun 2009 silam, sesosok bayangan mirip hantu juga muncul menjadi 'tamu tak diundang'. Penampakan seperti perempuan berambut panjang di atas panggung inipun tak pelak menggegerkan para fans d Masiv kala itu.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut terkait penampakan mengerikan ini dari pihak Geisha maupun pihak penyelenggara. Hmm, hantunya fans berat Geisha kali ya!

forum.vivanews.com

1:06 PM | Posted in , , , | Read More »

Sinetron, Band Alay, dan Yang Lebih “Meng-4LaY” Lagi


Ilustrasi Anak Alay
Ilustrasi Anak Alay
Beberapa tahun lalu, saya masih suka mengkritik sinetron atau lagu-lagu band genre melayu yang konon “alay”. Sinetron yang sepertinya disukai oleh hampir semua keluarga di pelosok negeri, terutama di desa-desa, saya anggap sebagai potret “sangat berlebihan” atas kehidupan (sok) glamor. Belum lagi akting para pemainnya yang (maaf) seperti boneka kayu: kaku dan agak lebay. Durasi jatuhnya air mata sang tokoh utama, penderitaan hebatnya di bawah kaki musuh bebuyutan, hingga derai tawa kejam wanita-wanita jahat membuat sinetron menjadi salah satu hal yang saya hindari untuk dilihat.
Demikian pula lagu “pop-melayu”. Lagu-lagu “alay” band genre melayu saat itu mulai menjamur. Awal tahun 2005, ketika Kangen Band masih “menyusup” melalui radio-radio, kawan SMA saya menyodorkan lagu “Usai Sudah” (Tentang Aku, Kau, dan Dia) sebagai lagi yang kata anak remaja “gue banget”. Saya tersenyum agak “bagaimana” mendengar suara mendayu-dayu Andhika (saat itu bahkan saya belum melihat wajahnya). Ketika kemudian band-band baru Indonesia menyuguhkan lagu serupa, saya seolah merasa berhak untuk angkat tangan. Lagu “cengeng” yang “sangat sederhana”, tapi entah kenapa mengoyak hati para remaja Indonesia, demikian komentar saya.
Namun, kini semua pikiran negatif tentang “hal-hal miring” tadi, mulai dari sinetron hingga band “alay”, menguap habis. Kenyataannya, sinetron menjadi hiburan (mungkin satu-satunya hiburan) mereka yang bekerja keras sepanjang hari sebagai buruh. Di tempat saya tinggal (karena saya orang desa), para buruh genting baru bisa meluangkan waktu dengan keluarga pada jam-jam sekitar sinetron tersebut diputar. Alhasil, sinetron bisa mengumpulkan keluarga yang terpecah seharian oleh kekejaman alat tukar bernama uang. Di depan televisi, mungkin satu keluarga tersebut terdiam atau terbengong sambil menyantap makan malam. Namun, di sana terdapat esensi kehidupan sebenarnya yang sepanjang hari tercerabut paksa. Sinetron membuat golden time keluarga tetap eksis. Ayah atau ibu yang capek, tidak buru-buru ke kamar tidur.
Lagu “alay” pun demikian. Remaja yang labil, menemukan kekuatan baru ketika mendengar lagu-lagu yang sesuai keadaan mereka. Bahkan, dalam titik yang sangat ekstrim, remaja kita bisa tampil “jujur” dengan bantuan lagu-lagu alay tadi. Mereka mengekspresikan perasaan yang tertekan, ingin disayang, atau memberontak keadaan dengan cara mereka sendiri dengan lagu tadi. Band alay bisa dikatakan sebagai “penyelamat” mereka dari keterasingan dan keterkungkungan sehingga dipuja bagaikan dewa.
Pikiran saya yang beralih “memihak” sinetron dan lagu alay ini semakin bertambah ketika membaca sebuah petikan dalam jurnal apokalips, jurnal buatan orang-orang yang ingin merdeka sepenuhnya dari segala macam kekuasaan palsu yang menjebak hidup. Saya mengutipnya secara utuh sebagai berikut:
  1. Tanpa Relaxa, maka nafasmu bau dan tak seorangpun ingin berciuman denganmu…

  2. Tanpa Axe, tak seorang pun ingin menyentuh atau berdekatan denganmu…

  3. Tanpa Revlon dibibirmu, tak ada lelaki yang akan melirikmu…

  4. Tanpa sepatu Adidas, kau tak akan berolahraga dengan baik…

  5. Oiya, kau pasti mahkluk rendahan yang tak peduli lingkungan karena kosmetikmu bukan produk Body Shop…

  6. Tanpa Sampoerna Hijau, kau tak akan mendapat keasyikan bersama kawanmu…

  7. Tanpa Surf, bajumu dianggap tak bersih…

  8. Tanpa Superpel, tak ada orang yang ingin menginjak lantai rumahmu…

  9. Tanpa furniture Ikea, tak ada yang mau makan di meja makanmu…

  10. Tanpa Ponsel Nokia seri terbaru, tak seorangpun mau berkawan denganmu…

  11. Anak-anakmu tak akan mendapatkan pendidikan yang baik kecuali engkau membelikan mereka mainan edukatif yang mahal…

  12. Tanpa paket ONH Plus, engkau belum menunaikan ibadah haji secara sempurna…

  13. Kekasihmu tak akan mau kencan denganmu lagi bila engkau tak membawa menonton film Holywood terbaru di Blitz Megaplex atau Studio 21, itupun harus ditutup dengan makan bersama di McD dan Starbuck. Lagipula, bagaimana kalian akan kencan kalau motor-matic terbarupun dirimu tak punya dan hanya mengandalkan angkutan kota…???

  14. Renungkan seluruh aktivitasmu dan kau akan menyadari satu hal: kau tak akan dapat bersenang-senang kecuali kau mampu membayarnya…

Meskipun kutipan tersebut agak berlebihan bagi saya, kutipan ini begitu dalam mengena dalam hati. Ya, buat apa saya mengeluh ini dan itu terhadap sinetron atau band alay, sementara sikap “bersinetron” dan “mengalay” sering saya lakukan setiap hari? Rasanya malu sekali, berkoar-koar sok hebat, namun kenyataannya sayalah boneka kayu sesungguhnya. Justru sayalah yang melebihi remaja yang jejeritan berteriak memuja vokalis tampan band-band “alay-melayu”: menjerit setengah mampus dalam bentuk lain ketika “kebutuhan hidup yang sudah diatur oleh sistem masyarakat” tidak saya miliki.
http://jadiberita.com/blog/2011/08/08/sinetron-band-alay-dan-yang-lebih-meng-4lay-lagi/
sumber : 

1:18 PM | Posted in , | Read More »

Nama-Nama Grup Band Indonesia Dalam Sebuah Cerita



Suatu hari Radja dan Ratu ingin minum kopi. Tetapi, walau Ada Caffein dan bisa merusak GigiPutih jadi Cokelat, mereka tetap memilih minum kopi dicampur Mocca. Padahal penasihat kesehatan mereka sudah bilang kalau lebih baik minum ST12 yang terbuat dari Hijau Daun teh dari daerah Puncak yang terkenal itu. Mereka senang mendengar puisi Soneta sambil main Domino. Five Minutes kemudian, si Dewa, Mahadewi, dan Samsons datang karena KangenPas mereka sedang menuju Tangga, tiba-tiba Peterpan datang bawa KotakMahkota ber Tahta kan Jamrud. Dengan Naif dan Seurieus –nya, dia berkata “Benda ini hadiah tuk Geisha yang berumur Seventen. “Hello! “dengan gaya Slank dan Gruvi mereka menyindirnya , “Salah masuk kerajaan kali? Di Tipe-X kali nama lo dari Tiket masuk kerajaan sebelah. Lagipula umur segitu masih Virgin tapi dia kan dah gak! Ha ha ha. Sedih nian kalau diperlakukan seperti itu, tapi ia bersikap Netral. Ia pun pulang ke rumahnya, tapi sebelumnya mampir dulu ke Kuburan tuk dapat wangsit. Tiba-tiba, dari atas terdapat cahaya warna Ungu. Armada Pilot datang bersamaan dengan cahaya itu. Mereka serempak berkata Superman Is Dead, bung! Kami hanya bawa Boomerang buatmu tuk menyerang orang-orang yang menghinamu. Setelah itu, mereka lenyap karena adanya Efek Rumah Kaca dan tiba-tiba dia sudah berada di Garasi.

sumber: http://hermawayne.blogspot.com/2010/...sia-dalam.html

10:30 AM | Posted in , | Read More »

Blog Archive

> ;

Recently Commented

Recently Added

Photobucket